5 Tips untuk Berpose Saat Potret yang Sempurna

5 Tips untuk Berpose Saat Potret yang Sempurna – Tidak mengetahui cara berpose model adalah salah satu tantangan yang bisa dihadapi oleh para pemula. Ini adalah langkah penting untuk dikuasai. Anda perlu tahu cara berpose model Anda jika Anda ingin membuat potret yang sempurna.

Berikut adalah beberapa tips untuk membantu Anda mendapatkan pose yang tepat untuk setiap potret yang Anda ambil. Ingatlah bahwa membaca saja tidak akan segera meningkatkan keterampilan Anda. Latihan membuat sempurna! Kiat-kiat ini hanya akan berguna jika Anda benar-benar mempraktikkannya dengan mengambil banyak potret.

5 Tips untuk Berpose Saat Potret yang Sempurna

1. Bantu model Anda merasa rileks.

Ada garis tipis antara pose menyanjung dan tidak menarik/tidak wajar. Banyak tergantung pada orang yang Anda potret. Pose tertentu dapat bekerja dengan baik dengan satu orang, namun gagal dengan yang lain. Variabilitas ini sebagian disebabkan oleh tingkat kenyamanan setiap orang. Model yang gugup atau tegang dapat membuat pose apa pun tampak tidak wajar, tidak peduli seberapa ‘normal’ pose itu.

Untuk alasan ini, penting untuk membantu model Anda merasa rileks sebelum Anda mulai berpose. Model yang tidak nyaman akan membuat potret Anda tampak kurang asli, terlepas dari posenya, jadi lakukan yang terbaik untuk membantunya merasa nyaman. Ciptakan suasana santai dan tenang, serta kenali siapa modelnya. Semakin banyak yang Anda ketahui tentang gaya, suasana hati, dan kepribadian model, semakin baik Anda dalam menangkap bidikan hebat orang tersebut.

2. Perhatikan tempat duduk dan komposisi.

Kecuali Anda secara khusus ingin menggunakan kursi dalam pose, yang terbaik adalah menggunakan bangku. Mereka kurang mengesankan dan sering tidak muncul dalam gambar. Sebagai bonus tambahan, mereka menjaga model agar tidak membungkuk, yang tidak pernah terlihat bagus dalam potret.

Jika Anda memotret dua orang (seperti potret pertunangan atau saudara kandung, misalnya), berhati-hatilah saat duduk dan berpose. Jika model memiliki tinggi yang sama, kepala mereka mungkin sejajar dalam pose tertentu. Garis lurus ini bisa terlihat tidak alami. Alih-alih, pilih untuk memiliki satu subjek lebih tinggi dari yang lain untuk potret yang mengalir.

Saat menata model, pikirkan di mana bingkai akan mulai/berakhir. Apa yang akan Anda sertakan/kecualikan dalam bidikan? Berikan perhatian khusus pada lengan, kaki, tangan, kaki, dan leher model. Anda tidak ingin memotong pelengkap di sendi. Meskipun Anda mungkin tidak ingin tangan dan kaki di bingkai, Anda juga tidak ingin memotong model di bagian pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku atau lutut. Titik potong ini akan membuat model terlihat aneh.

Terakhir, jangan merasa harus duduk atau mengatur model Anda dalam pose beku. Gerakan bisa menjadi hal yang hebat! Bahkan di dalam studio, gerakan dapat membuat gambar terlihat lebih natural dan menyenangkan. Potret berpose mungkin berguna dalam beberapa situasi, tetapi mereka tidak selalu terlihat alami, terutama jika model Anda adalah orang yang energik. Gerakan dapat membuat model ini rileks dan membantu Anda menangkap kepribadian mereka dengan lebih baik.

3. Pilih pose/angle yang menyanjung, terutama untuk close-up.

Fotografi digital telah membuatnya lebih mudah dari sebelumnya untuk membuat potret close-up yang bagus. Namun, Anda tetap tidak dapat bergantung pada kamera atau komputer Anda untuk melakukan semua pekerjaan. Pose dan sudut yang Anda pilih untuk potret close-up akan sama pentingnya.

Pertama, selalu fokus pada mata model. Seperti kata pepatah lama, “Mata adalah jendela jiwa.” Untuk menangkap ‘jiwa’ atau kepribadian subjek Anda dari dekat, perhatikan matanya. Bahkan jika Anda memilih fokus lembut untuk sisa gambar, mata harus selalu tajam dan fokus.

Juga, bidik dari sudut yang bagus untuk mengecilkan detail yang mungkin disadari oleh model Anda. Misalnya, gambar akan lebih bagus jika Anda memotret dengan kamera sedikit lebih tinggi dari garis pandang model. Sudut ini akan merampingkan wajah dan memberikan bentuk hidung yang lebih bagus.

Namun, untuk model dengan kepala botak, coba turunkan kamera sedikit dan minta orang tersebut mengangkat dagunya sedikit. Sudut ini akan menghindari kilau atau pantulan cahaya, yang menarik perhatian ke kepala botak.

Demikian juga, Anda dapat meminimalkan telinga yang menonjol dengan mengubah pose model atau sudut Anda. Saat Anda mengatur bidikan, hindari setiap sudut/pose di mana orang tersebut menghadap kamera secara langsung. Demikian pula, untuk hidung yang menonjol, hindari bidikan apa pun di mana model diputar dalam profil. Sebaliknya, minta mereka menghadap kamera secara langsung.

Kacamata bisa membuat seseorang terlihat menarik atau aneh dalam potret, tergantung dari sudutnya. Setiap pantulan cahaya pada kacamata akan menghalangi mata model—tampilan yang pasti ingin Anda hindari. Anda dapat mencegah refleksi ini dengan meminta model untuk sedikit menurunkan dagunya. Perubahan sederhana ini akan menjauhkan pantulan dari kaca dan tidak terlihat di gambar akhir.

4. Bertujuan untuk kelembutan.

Biasanya, potret yang lebih lembut terlihat lebih baik. Meskipun kelembutan tidak tetap ‘aturan’ fotografi potret, itu tidak cenderung bekerja dengan baik, terutama ketika memotret wanita dan anak-anak. Gambar lembut akan meminimalkan cacat yang mengganggu, cacat kulit, atau karakteristik yang lebih disukai model Anda. Misalnya, model lama mungkin menghargai bagaimana potret lembut meminimalkan kerutan mereka.

Tentu saja, kelembutan juga mungkin berlebihan. Ingatlah preferensi model Anda, tren saat ini, dan portofolio fotografi Anda. Pada akhirnya, gambar harus beresonansi dengan identitas dan gaya fotografi Anda. Jika tidak, Anda mungkin kehilangan perspektif atau minat unik Anda pada fotografi potret.

Bagaimanapun, bereksperimen dengan kelembutan itu mudah. Untuk pemula, mulailah dengan memilih potret yang sedikit lebih jauh (misalnya dari pinggang ke atas), sehingga kurang fokus pada kulit subjek. Langkah ini tidak perlu – close-up tentu juga bekerja dengan lembut – tetapi Anda mungkin tidak terlalu frustrasi jika memulai dengan jarak tertentu.

Kemudian, letakkan pencahayaan utama setinggi mata. Sudut ini membantu menghindari bayangan yang menonjolkan kekurangan atau kerutan kulit, daripada menyembunyikannya.

Terakhir, gunakan diffuser yang menempel pada blitz dan pencahayaan, yang memberikan efek lembut secara keseluruhan pada gambar. Pastikan untuk tetap fokus pada mata model. Bagaimanapun juga, mata mereka tetaplah jiwa—dan seringkali atribut mereka yang paling indah.

5 Tips untuk Berpose Saat Potret yang Sempurna

5. Tonjolkan Garis Rahang

Untuk pria, gunakan angle dan lighting untuk menonjolkan garis rahang. Sesederhana meminta model Anda memanjangkan leher dan bermain dengan pencahayaan untuk menggunakan bayangan. Dari sana, rentangkan kepala ke atas atau ke bawah untuk menemukan tampilan yang paling bagus. Untuk info lebih lanjut tentang berpose pria, lihat artikel ini di Adorama tentang pose model pria.…